Sabtu, 10 Maret 2018

Secret Admirer

                                              
      Karya : Maria Frisilla Sitompul

   Hari minggu adalah hari yang paling dinantikan para siswa. Ya, karena hanya dihari minggu lah mereka bisa bermalas-malasan di kasur kerajaannya yang sudah ia anggap sebagai surga dunia, menunggu sampai ada yang membangunkannya. Tapi hal itu tidak berlaku untuk siswi 16 Tahun bernama Aerilyn Bellvania Valerie, anak terakhir dari keluarga Verllando. Menurutnya hari minggu adalah hari yg sangat padat. Karena ia harus berada digereja sepanjang hari.
   Jam sudah menunjukan pukul 4:30 WIB. Seperti biasa ia harus melakukan saat teduh kemudian berangkat kegerejanya untuk melakukan tugas membina anak sekolah minggu digerejanya. Tetapi sepertinya hari ini ia tidak ada semangat untuk berangkat kegerejanya. Memang sejak kemarin ia sedang tidak enak badan. Kedua orangtuanya sudah mencoba membujuknya untuk pergi ke sebuah klinik, tapi gadis itu menolaknya dengan tegas. Memang Bellvania sangat takut dengan yg berbau medis. Mungkin trauma, karena ia pernah mengalami pengalaman buruk dengan seorang dokter di sebuah rumah sakit.
     "Abell" panggil seorang wanita yg tiba-tiba masuk kekamar gadis tersebut.
     “Abell, Ayo bangun sayang udah siang. Nanti telat loh kegerejanya." Ucap Mellvin,        yang merupakan ibu dari Abell
     "Hmmm" hanya gumaman yang menjadi respon dari Bellvania
     "Kenapa? Kamu sakit?"  Tanya Mellvin cemas
Merasa ada yg aneh dengan putrinya, Mellvin itupun menempelkan punggung tangannya ke dahi putrinya tersebut. Karena biasanya putrinya selalu bersemangat bila hari minggu. Ia langsung terkejut karena suhu tubuh putrinya tersebut kembali meninggi.
      "Sayang, kamu demam lagi" Ucap Mellvin  sambil mengambil air untuk                            mengompres putrinya.
      "Enggak kok mah, Abell gak kenapa-kenapa. Cuman agak  pusing aja" Balas Abel
        sambil memejamkan matanya, karena ia benar-benar merasa pusing jika
        membuka matanya.
     "Tuh kan, kan mamah udah bilang sama kamu, kamu itu harus berobat kedokter
       supaya cepet sembuh" omel Mellvin
Abell yg sangat lemas hanya bisa diam. Ia merasa benar-benar pusing jika ia membuka matanya.
     "Yaudah kamu ganti baju, kita kerumah sakit sekarang" Perintah Mellvin
     "Ihhh mah, gak usah. Abell gak kenapa-kenapa kok" Balas Abell  berusaha                       meyakinkan mamahnya.
     "Tapi kamu udah demam 3 hari sayang, mamah takut kamu kenapa-kenapa" Ucap        Mellvin
     "Yaudah deh, mamah gereja dulu. Habis itu aku mau diajak berobat" Bujuk  Abell
    "Yaudah, kamu istirahat ya sayang. Nanti pulang gereja kita kedokter ya" Balas Mellvin sambil meninggalkan kamar putri nya.
Tak lama kemudian handphonenya bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Paggilan telpon itu dari Vellyna , kakak senior digerejanya yang sangat akrab dengan Abell, biasa disebut "cici Vellyn" oleh Abell. Ya, karena dia memang keturunan chinese. Abell memang dekat dengan Vellyn. Dari sewaktu Abell masih 5 tahun, Vellynlah yang mengajarkannya di sekolah minggu. Jadi tak heran mereka bisa sangat sangat dekat seperti layaknya kakak dan adik kandung. Dulu mereka sempat terpisah selama 3 tahun karena Vellyn dihari sabtu-minggu harus kuliah menempuh pendidikan s1 nya. Setelah mereka berpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Dan sejak itulah hubungan mereka kembali hangat. Tak jarang pula Abell menginap di appartement milik Vellyn.
     "halo dek, kamu dimana? Kok jam segini belum sampe?" Tanya Vellyn
     "Abell gak gereja hari ini ci" Balas Abell
     "Looh, kenapa?” Tanya Vellyn
     "Badan Abell lagi gak enak ci?" Jawab Abell
     "Kenapa memangnya? Udah berobat belum?" Tanya Vellyn Cemas
     "Belum ci, hehehe.." Balas Abell sambil tertawa kecil
     "Kenapa gak berobat? Ihh.. Jangan ditahan-tahan dek, cici takut kamu kenapa-                kenapa" Omel Vellyn
    "Enggak akan kok ci, Kan Abell punya Tuhan yang bisa nyembuhin Abell, dokter           diatas segala dokter" Canda Abell yang mencoba mencairkan suasana
     "Yaudah nanti setelah starkidz cici langsung kerumah kamu ya. Kebetulan cici
       punya temen dokter, nanti cici telpon dia biar bisa ikut dateng kerumah kamu
       untuk meriksa kondisi kamu" UcapVellyna
     "Ih cici gak us..." Balas Abell yang dipotong Oleh Vellyna
     "Gak ada penolakan!" Titah Vellyn lalu ia mengakhiri panggilan telponnya
Tuut..Tuut...Tuut... Paggilan nya pun terputus
     "Huffttt" Abell kesal karena menurutnya cicinya terlalu  berlebihan.
Lalu ia pun melanjutkan tidurnya. Tak lama kemudian datanglah Vellyn, Devan, dan  seseorang yg tidak ia kenal.
      ‘‘Shallom..’’ Ucap Vellyn mengucap salam
    ‘’Shallom, masuk aja ci gak di kunci, Abell dikamar’’ Balas Abell
Lalu Vellyn pun masuk ke kamar Abell
      "Dek? Gimana? Udah enakan?"  Tanya Vellyn  cemas sambil menempelkan
        punggung tangannya kedahi Bellvania
      "Kemaren sih sempet enakan ci, tapi waktu Abell bangun tadi kayaknya badan 
        lemes banget" Jawab Abell
      "Yaudah didepan udah ada kak alex, temen cici. Cici panggil ya buat periksa
        kamu" Ucap Vellyn
      "Yah ci, udah gak usah ya" Rayu Abell
      "Udah kamu diem disini" Titah Vellyn
Vellyn pun keluar untuk memanggil Devan dan Alex. Dokter yang dimaksud adalah Alex Arsenio. Dokter muda yang baru berusia 22 tahun, Karena kepintaraanya ia diangkat sebgai dokter 2 tahun yang lalu. Alex adalah teman karib Devan.
     "Shallom" Salam mereka ber2 yang masuk kekamar Abell
     "Shallom" Jawab Abell
Setelah itu Devan, kekasih Vellyn langsung duduk di sebuah sofa yang ada dikamar tersebut dan Alex langsung duduk dipinggir kasur Abell untuk memeriksanya
    "Udah berapa lama demamnya de?" Tanya Alex
      "Dari hari kamis dok" Jawab Abell sungkan
   “Gak usah panggil dok, panggil kakak aja” Ucap Alex terkekeh geli lalu tersenyum          manis, membuat siapapun yang menatapnya tersipu malu. 
    "Kayak nya coba di cek darah aja deh Vell, Takutnya DBD/Typus" Mendengar hal
      itupun Abell langsung bergidik ngeri.
Vellyn bingung apa yang harus ia lakukan. Lalu ia menelpon kedua orangtua Abell untuk meminta saran, karena ia tidak enak jika mengambil keputusan sendiri. Dan kedua orangtua Abell pun menyetujui dan menyerahkan semua kepada Vellyn karena kedua oraangtuanya masih ada rapat digereja. Kedua orangtua Abellpun sudah menganggap Vellyn seperti anaknya sendiri.
      "Ahhh gausah cici, Abell gak kenapa-kenapa kok" Sahut Abell ketakutan. Ia.                     memang sangat  takut dengan  jarum suntik.
      "Udah diem" Balas Vellyn
      "Lu bawa alat-alatnya kan?" Tanya Vellyna ke Alex
      "Bawa, ntar ambil sampel darahnya disini aja. Biar nanti gue sama Devan yg pergi
       ke klinik gue buat naro dilab" Jawab Alex
      "Oke" Ucap Vellyn
      "Ahh kak aku takut!" Isak  Abell
      "Enggak, gak sakit kok" jawab Alex yang berusaha menenagkan Abell
      "Ih kak, GAMAU POKOKNYA!" Teriak yg ingin menghindar dari mereka, namun.           sayangnya belum sempat turun dari ranjang tangannya sudah ditahan terlebih
      dahulu oleh Devan agar tidak kabur.
      "Aahh gak mau koh, aku takuut!" Teriak Abell
      "Gak sakit deek yaampun" Balas Devan sedikit kesal karena Abell dari tadi tidak             bisa diam
Sementara itu Alex  sedang mengambil suntikan yang ada didalam tasnya. Abellpun berkeringat dingin.Ia hanya bisa pasrah. Selepas itu Alex langsung membawa sampel darah tersebut ke lab yg ada di klinik miliknya untuk mengecek sampel darah etrsebut.
Selang 2 jam kemudian Alex pun kembali dan memberitahukan bahwa Abell possitive terkena DBD dan herus segera dirawat. Hening seketika.. Lalu Vellyn memberitahukan kepada kedua orangtua Abell bahwa putrinya harus dirawat. Kedua orangtuanya pun meminta tolong kepada Vellyn agar segera membawa Abell kerumah sakit dan mengatakan ia akan segera kesana.
   "Yaudah sekarang mau dibawa kemana?" Tanya Alex
   "Ke RS Bhakti Kartini aja lex, karena Abell  memang biasa dirawat disana" Jawab
     Vellyn
   "Di klinik nya Alex aja. Kan biar kita lebih gampang juga" Saran Devan
Akhirnya kami ber4 pun segera pergi ke klinik Medika milik alex. Setibanya mereka disana tidak perlu mengantri. Abell langsung diarahkan ke salah satu kamar yg ada diklinik tersebut. Disana Alex langsung memasang infus yg diperlukan untuk Abell.
    "Gak usah pake infus-infusan sih kak, aku gak kenapa-kenapa" Bujuk Abell
     "GAK!" Balas Alex sambil mencoba menginfus Abell , tetapi ia menarik tangannya
     "Siniin tangannya dek" Ucap Alex
     "Gak, aku gak suka di infus" balas Abell
     "Sila ini agar kondisimu cepat membaik" Ucap  alex sambil menarik tangan
     "Aaw sakit kak" Rintihnya  karena Alex mulai memasangnya
Selama 3 hari dirawat disana dan selama 3 hari juga penderitaan itu berlangsung. Bagaimana tidak? Setiap hari di pagi, siang, dan sore darahnya selalu diambil untuk mengecek jumlah trombosit. Selama itu pula ia harus berbaring, meminum obat, dan memakan makanan ala rumah sakit. Oleh karena trombositnya yg masih terus menurunlah yg menyebabkan ia lama untuk kembali kerumah. Sungguh sangat membosankan. Tak heran jika tidak akan ada seorangpun yang ingin berbaring lemah dikasur rumah sakit dan menganggap bahwa RS adalah tempat yg mengerikan. Begitupula yg Abell rasakan.
Akhirnya penderitaan itu selesai. Setelah 3 hari  harus dirawat diklinik akhirnya sekarang ia terbebas dari jarum infus yg sangat mengganggu. Abell merasa sangat bahagia. Sekarang ia bisa berbaring di kamarnya, bukan kamar yang ada diklinik kemarin.
Namun keesokan harinya setelah ia kembali kerumahnya. Ia merasakan ada sesuatu yg aneh didalam dirinya. Entah mengapa ia merindukan suasana di klinik tersebut. Padahal awalnya ia menolak keras untuk ditangani oleh dokter. Ia memikirikan segala perhatian yang Alex berikan kepadanya kemarin.
Semakin lama hubungannya dengan Alex pun semakin dekat, karena tak jarang Alex sering ikut datang membantu di ibadahi starkidz. Abell merasa nyaman saat didekatnya. Tak dapat dipungkiri Abell juga terkadang rindu dengannya, karena semenjak kejadian tersebut Alex menjadi perhatian terhadap Abell. Namun, Alex hanya menganggap Abell sebagai adiknya. Abell pun awalnya menganggap Alex sebgai kakaknya seperti ia menyanyangi kakak kandungnya. Siapa sangka perasaan itu berubah menjadi perasaan yang tak diharapkan. Perasaan nyaman yang berubah menjadi perasaan mengagumi terhadap lawan jenis.
Ia berpikir, apakah perasaan ini benar? Ia mencintai orang yang telah menganggapnya sebagai adik perempuannya. Tapi cinta datangnya tak ada yang bisa menduga. Kepada siapa, kapan, dan dimana ia akan jatuh cinta. Hanya saja kita harus tau cara menyikapinya. Itulah yang membuat Abell bingung. Apakah ia harus membiarkan perasaan itu terus berkembang atau menghentikannya? Ntahlah, hanya ia dan Tuhan yang tau.

Hingga pada suatu hari, Abell ditunjuk sebagai salah satu choir untuk acara Celebration Of  Giving digerejanya yang terletak ditengah ibukota. Dua minggu sebelum acara tersebut berlangsung ia harus latihan rutin kegereja. Setiap latihan Alex dan Velllyn lah yang mengantarkan Abell. Awalnya Abell sempat menolaknya, tetapi Alex teteap bersikeras. Tak disangka ternyata Alex diam-diam menyukai Nathalia, seorang wanita yang berprofesi sama dengan dirinya. Wanita tersebut merupakan pembina choir yang melatih Abell. Abell pun baru mengetahuinya saat acara COG itu berlangsung. Tak sengaja ia melihat Alex sedang berbicara serius dikantin dan Abell pun  mendengarkan obrolan serius mereka. Ternyata, disana Alex sedang mengutarakan isi hatinya kepada Nathalia. Seketika tubuhnya menjadi kaku, tak dapat berbicara apapun. Seperti ada halilintar yang menyambar dirinya.. Ia sadar usianya dengan Alex terpaut jauh. sesungguhnya ia tidak siap untuk menerima kenyataan tersebut. Tapi apa boleh buat? Jika Tuhan sudah berkehendak tak ada seorangpun yang mampu mengubah suatu takdir. Ia tidak mungkin menghalangi hubungan mereka, karena ia tahu bahwa dirinya tidaklah pantas. Dirinya masih terlalu muda. Ia masih memiliki masa depan yang panjang dan harus menggapai cita-citanya. Semenjak melihat kejadian Alex mengutakarakan isi hatinya, Abell terus merenung dan dengan berat hati Abell pun bertekad dan berusaha untuk menghapus rasa mengagumi yang ia rasakan. Tetapi, satu hal yang ia tanamkan saat itu “Tuhan tahu yang terbaik untuk dirinya’’ Ia tidak mau memaksakan kehendaknya, karena sesungguhnya rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik.

Ibaratkan diriku senja dan kaulah sang fajar..
Aku hanya bisa mengagumimu tanpa bisa bersamamu..
Kita berputar dalam poros yang sama,  tetapi kita tidak bisa bersama...

                                                                             -SELESAI-